Archive for the ‘pemain legenda bola’ Category

gol ronaldo samai legenda united

May 5, 2008

MANCHESTER – Cristiano Ronaldo mencatatkan rekor fantastis musim ini. Pemain Timnas Portugal tersebut mengemas 40 gol. Jumlah itu dipastikan setelah menyumbangkan dua gol ketika Manchester United menghempaskan West Ham United 4-1 pada Premier League.Jumlah itu menyamai rekor

Meski kompetisi terbesar di Inggris baru berakhir musim depan, Ronaldo sudah dipastikan menjadi topskor dengan 30 gol. Sementara 10 gol lainnya dilesakkan pada kompetisi lainnya.

Bukan hanya itu. Mantan pemain Sporting Lisbon tersebut menyamai rekor gol legenda The Red Devils lainnya, Denis Law dan Ruud van Nistelrooy.

Peluang Ronaldo menambah perbendaharaan atau melampaui seniornya terbuka lebar. Pasalnya, United akan berlaga pada final Liga Champions dan pertandingan terakhir Premier League.

Sebelumnya, Ronaldo juga meraih anugrah pemain terbaik dunia 2008 versi Asosiasi Wartawan Sepakbola (FWA) dan Asosiasi Pemain Profesional Inggris (PFA).

10 nama pemain legendaris

May 5, 2008

1. Diego Armando Maradona
Gesit, pandai meminkan bola, jenius, dan dewa bagi para tifosi Napoli. Kehadirannya di Napoli dan Argentina membawa berkah, yaitu gelar juara yang sangat ditunggu-tunggu. Sayangnya setelah pensiun malah dililit masalah obat-obatan.
2. Pele
Siapa yang tidak mengenal nama Pele? Tiga raihan piala dunia bagi tim nasional Brazil adalah berkat kemampuan bermain bola bagi seorang Pele. Sejak berumur muda (17 tahun) sudah bermain di Piala Dunia. Berkat dia, Brazil menjadi satu-satunua tim dari benua Amerika Latin yang meraih piala dunianya di benua Eropa.
3. Johan Cruijff
Masih ingat total football? Ciri khas menyerang ala Belanda ini bisa berjalan berkat dorongan dari pemain sekaliber Cruijff. Setelah menjadi pelatih, turut sukses pula.
4. Franz Beckenbauer
Der Kaizer yang dianggap sebagai pemain terbaik jerman sepanjang masa. Berkat dia, Cruijff tidak bisa berkutik di final Piala Dunia 1974 di Olympia, Muenchen. Merupakan orang yang sukses pertama kali di ajang piala dunia, sebagai pemain maupun sebagai pelatih dengan raihan juara
5. Alfredo di Stefano
Legenda dari Real Madrid. Pemain Argentina yang sempat menjadi rebutan antara Madrid dan Barcelona sehingga dimiliki bersama oleh kedua klub tersebut. Namun ceroboh bagi Barcelona karena menjual kepemilikannya sehingga Madrid memilikinya secara penuh dan diuntungkan dengan torehan lima kali juara Champion Cup.
6. Eusebio
Legenda Portugal dan dikenal sebagai macan gol di era 1960-an. Namun prestasinya todak pernah memuncak bersana Porugal, hanya bersama Benfica, ia bisa sukses.
7. Marco van Basten
Sang balerina dari Belanda. Juara piala eropa 1988 serta tiga raihan piala champion bersama Milan. Penampilannya hanya bisa dinikmati sebentar karena pensiun dini akibat cedera, tapi merupakan dream player bersama drean team, AC Milan
8. Lev Yashin
Si kiper yang dianggap sebagai macan hitam-nya Rusia. Merupakan kiper legenda di percaturan sepakbola dunia maupun Eropa.
9. Lothar Matthaeus
Mungkin banyak orang bingung kenapa saya memilih pemain ini? Tapi menurut saya, dia adalah pemain yang pintar, cerdas, dan bisa membawa Jerman juara piala dunia 1990.
10. Franco Baresi
Nggak salah kan kalo saya memilih dia. Merupakan pemain belakang terbaik di dunia, sayang gagal meriah piala dunia.
Itulah pilihan saya. Memang banyak pemain lain yang mungkin lebih layak, tapi bagaimanapun juga mereka yang saya sebutkan di atas adalah pemain-pemain dengan bakat istimewa, dan bisa menciptakan sepakbola yang lebih baik lagi. Bagaimana dengan pilihan Anda?

paolo maldini

May 5, 2008

Paolo Maldini Sang Legenda Hidup: 1000 Lebih Loyalitas Bagi Bangsa dan Klubnya

(gambar dari sini)

2 hari lalu, seperti biasa, gw selalu membaca habis majalah Bobo (nomor 48 tahun XXXV) yang rutin dibeli oleh adik gw (kelas 1 SMP dan kelas 6 SD). Di sana, ada sebuah halaman tentang profil seorang legenda hidup klub sepak bola AC Milan. Selagi membacanya, gw tiba-tiba teringat dengan profil serupa yang gw baca di majalah Bobo sekitar tahun 1994, saat gw masih sangat kecil. Ya, dialah Paolo Maldini, il capitano AC Milan, sebuah sosok loyalis sejati, legenda hidup Italia dan AC Milan khususnya.

Paolo Maldini, putra dari Cesare Maldini, adalah seorang sosok yang amat dikagumi karena konsistensi, dedikasi, dan pengabdiannya yang total pada tim nasional dan klubnya. Sejak penampilan perdananya bersama tim senior AC Milan pada tanggal 20 Januari 1985 (usianya 16 tahun saat itu) hingga saat ini, sang penempat posisi full back atau left back ini belum sekalipun berpindah klub. Ya, dari awal karir sepak bola profesionalnya hingga pensiun, dia tidak pernah sekalipun berpindah tim.

7 kali juara Serie A Liga Italia, 5 kali juara Liga Champions Eropa, satu kali juara Piala Dunia Antar Klub, serta masih banyak lagi gelar juara baik domestik maupun level Eropa, telah diraihnya bersama AC Milan.

Di tim nasional Italia, walaupun Maldini belum pernah sekalipun merasakan gelar juara di kompetisi internasional, sosoknya tetaplah amat dihormati. Lebih dari separuh dari 16 tahun (1994-2002) karirnya di tim nasional dihabiskan sebagai kapten tim. Maldini, yang pensiun dari tim nasional setelah Piala Dunia 2002 memegang jumlah pertandingan internasional (caps) terbanyak di tim nasional Italia, yaitu sebesar 126 pertandingan. Maldini juga termasuk ke dalam FIFA 100, daftar 100 legenda sepak bola dunia pilihan Pele, legenda sepak bola Brazil. Bahkan ia telah melewati pertandingan profesionalnya yang ke-1000 bulan Februari lalu, dan hampir tidak ada pemain sepak bola profesional lainnya yang mampu menyamai rekornya.

Ada satu perkataan Maldini yang gw baca pada Majalah Bobo pada tahun 1994, dan kembali gw ingat saat membaca profil Maldini. Kalimat ini dia lontarkan usai Piala Dunia 1994 (saat itu Italia dikalahkan Brazil di babak final), saat dia menerima penghargaan sebagai Pemain Terbaik Dunia tahun 1994,

It’s a great honor for me to know that so many people consider me so highly. It’s a particular matter of pride because defenders generally receive so much less attention from fans and the media than goalscorers. We are more in the engine room rather than taking the glory. I must admit that, for me, 1994 was the peak of my career so far. For any player to win the Champions Cup or to play in the World Cup Final would be enormous single matter of pride — but I was fortunate enough to be able to experience both those pinnacles of the game within a matter of weeks. Of course, whatever success I may have achieved is not merely down to my own credit. There are other people and influences on my career it would be only fair to acknowledge. Everyone always asks me about my father, Cesare, who captained Milan to their first Champions Cup victory in 1963 and is now our national under-21 coach. But I don’t really remember him as a player. I played under his instructions in Milan youth teams when I was a boy but really I learned more from him about being a man, about a correct attitude to the game, than from a technical point of view. Then, there has been my captain and colleague Franco Baresi. In my opinion he has received far too little recognition for his influence within the club and within Italian and international football. He is the man of few words but ‘talks’ instead through his deeds out on the pitch. He really deserves to receive the sort of award I have received from World Soccer. But … thank you again!

Terlepas dari sepak bola, Maldini bukanlah tipe pemain yang gemar hura-hura, bermewah-mewahan, dan mencari masalah di luar lapangan. Memang dia juga pernah menjadi model, tapi bukankah tampaknya kita tidak pernah mendengar berita miring tentang Maldini?

Ya, kekaguman gw pada Maldini adalah salah satu yang menyebabkan gw adalah fans AC Milan, atau lazim disebut Milanisti. Sekedar cerita saja, waktu SD (sampai kelas 6), gw adalah fans berat Petr Schmeichel dan Manchester United, yang rela begadang pagi-pagi (bayangin anak SD bangun tengah malem, bikin indomie, dan nonton MU bertanding di Liga Champions! Adik gw sekarang ga pernah kaya gini..). Akan tetapi, ke-fans-an gw mendadak hilang karena gw tertidur dan tidak menonton final Liga Champions 1998-1999 antara MU dgn Bayern Munich, dimana laga tersebut adalah laga terakhir Petr Schmeichel di MU, karena musim depan ia pindah ke klub lainnya. Beberapa tahun tidak punya klub idaman, akhirnya tahun 2002-an gw pun menjadi fans setia AC Milan.

Ya, Paolo Maldini, salah satu pemain belakang terbaik Eropa, sosok loyalis, pemimpin di lapangan, sosok sederhana, ayah yang baik, sosok berdedikasi tinggi, adalah legenda AC Milan dan Italia, yang sampai kapanpun akan dikenang dengan torehan tinta emas.

Oh iya, ngomong-ngomong, ada yang penasaran kenapa Maldini begitu loyalnya dengan Milan nggak? Itu karena namanya Maldini sendiri menunjukkan hal itu: